Sorot Jogja – Proyeksi rupiah Jumat (17/7): Pasar cermati arah kebijakan The Fed menjadi fokus utama para pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tertekan oleh kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik yang dinamis.

Rupiah mulai diperdagangkan di level Rp 17.851 per dolar AS, mengalami penurunan 0,28% atau setara dengan 51 poin. Namun, menjelang siang, nilai tukar rupiah berangsur menguat ke level Rp 17.847 per dolar AS, naik 0,28% atau 49 poin. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.798 per dolar AS, menunjukkan penguatan 0,16% dibandingkan penutupan Jumat lalu.

Baca juga:

Menurut analisis pasar, salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran. Hal ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang akan berdampak negatif bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, memprediksi bahwa rupiah akan cenderung melemah terhadap dolar AS akibat tekanan eksternal ini. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menyatakan bahwa meskipun ada potensi pelemahan, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat tipis menuju Rp 17.800 per dolar AS, tergantung pada dinamika risiko geopolitik.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung hari ini juga menjadi perhatian. Tiga ekonom mengungkapkan bahwa BI diperkirakan akan terus mempertahankan suku bunga tersebut, dalam upaya menjaga stabilitas rupiah dan inflasi yang terkendali. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa saat ini tidak ada kebutuhan mendesak bagi BI untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga, mengingat inflasi domestik yang berada pada level rendah.

Baca juga:

Inflasi Juli 2026 tercatat mengalami deflasi 0,14% secara bulanan dan turun menjadi 2,88% secara tahunan, memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga. Selain itu, kondisi inflasi yang stabil juga dipengaruhi oleh perbaikan arus modal asing yang mendukung nilai tukar rupiah.

Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan tekanan inflasi eksternal dan ketidakpastian pasar global. Josua menyoroti bahwa meskipun inflasi domestik terkendali, kondisi eksternal, termasuk potensi inflasi global dan ketegangan geopolitik, masih perlu diwaspadai. Oleh karena itu, proyeksi rupiah Jumat (17/7): Pasar cermati arah kebijakan The Fed akan sangat bergantung pada bagaimana pelaku pasar merespons perkembangan ini.

Secara keseluruhan, meskipun ada potensi penguatan, pasar tetap harus waspada terhadap faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kestabilan rupiah. Perkembangan kebijakan moneter The Fed dan situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi dua aspek utama yang perlu dicermati oleh investor dalam menghadapi ketidakpastian ini.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.