Sorot JogjaPejabat Rusia meramalkan bahwa akan lahir senjata non-nuklir yang berdaya hancur seperti nuklir. Senjata ini dikembangkan oleh perusahaan patungan antara India dan Rusia, BrahMos Aerospace. Perusahaan ini memproduksi rudal jelajah supersonik yang paling terkenal di dunia.

BrahMos Aerospace didirikan pada tahun 1998 dengan modal awal 300 juta dollar AS. Kepemilikan perusahaan ini adalah 50,5 persen oleh India dan 49,5 persen oleh Rusia. Kolaborasi ini menandai perubahan hubungan kedua negara dari sekadar penjual dan pembeli senjata menjadi mitra pengembang teknologi pertahanan.

Baca juga:

Nama BrahMos diambil dari gabungan dua sungai besar, yakni Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia. Penamaan ini melambangkan kerja sama kedua negara yang menjadi fondasi proyek sejak awal. Kolaborasi tersebut juga mempertemukan keunggulan teknologi masing-masing.

DRDO telah berpengalaman mengembangkan sistem navigasi, perangkat lunak misi, dan peluncur bergerak untuk rudal India. Sementara itu, NPOM memiliki keahlian dalam teknologi mesin ramjet dan rudal jelajah. Perpaduan kemampuan itu memungkinkan pengembangan BrahMos berlangsung relatif cepat.

Setelah perusahaan patungan berdiri pada tahun 1998, pengembangan BrahMos terus berlanjut hingga mulai diproduksi secara komersial pada tahun 2005. Senjata ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan target dengan akurasi tinggi dan kecepatan tinggi.

IAEA (International Atomic Energy Agency) adalah organisasi global otonom di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibentuk pada tahun 1957. Lembaga ini berfungsi sebagai pusat kerja sama dunia untuk mempromosikan penggunaan teknologi dan energi nuklir secara damai, aman, serta mencegah penyebaran senjata militer.

Baca juga:

IAEA juga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kecelakaan nuklir. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyatakan bahwa tujuan utama IAEA adalah mencegah terjadinya kecelakaan nuklir.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa insiden yang melibatkan senjata nuklir. Salah satu contoh adalah serangan artileri terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhia di Ukraina. IAEA menyadari bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut belum ditentukan.

Rafael Grossi menyatakan bahwa IAEA harus dapat memverifikasi semua keadaan secara independen sebelum menentukan pihak yang bertanggung jawab. Ia juga menegaskan bahwa kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi sangat diperlukan dalam melakukan penilaian.

Kesimpulannya, senjata non-nuklir yang berdaya hancur seperti nuklir akan lahir dalam waktu dekat. Senjata ini dikembangkan oleh perusahaan patungan antara India dan Rusia, BrahMos Aerospace. IAEA akan terus berusaha mencegah terjadinya kecelakaan nuklir.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.