Sorot Jogja – Bank Dunia baru saja mengumumkan bahwa Vietnam dan Filipina resmi naik kelas jadi negara menengah atas, sebuah pencapaian yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di kedua negara tersebut. Kenaikan status ini menandai langkah maju bagi Vietnam dan Filipina, yang kini sejalan dengan Indonesia yang telah lebih dulu masuk dalam kategori ini.
Pada awal bulan Juli 2026, Bank Dunia merilis pembaruan klasifikasi pendapatan yang mengangkat Vietnam dan Filipina ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas, menyusul pertumbuhan ekonomi yang kuat. Vietnam mencatat pertumbuhan PDB sebesar 7% pada tahun 2024 dan 8% pada tahun 2025, didorong oleh lonjakan ekspor yang rata-rata mencapai lebih dari 15%. Sementara itu, Filipina berhasil mencatat pertumbuhan rata-rata 5,8% per tahun, mencerminkan kemajuan di semua sektor industri.
Dengan status baru ini, Vietnam dan Filipina kini bergabung dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia dalam kategori negara berpendapatan menengah atas. Meskipun Indonesia telah berada dalam kelompok ini sejak 2023, kenaikan kelas tetangga seperti Vietnam dan Filipina menjadi sinyal bagi Indonesia untuk lebih meningkatkan daya saing.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengungkapkan bahwa persaingan di kawasan ASEAN semakin ketat. Ia menyatakan, “ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan berupah murah, tetapi mulai masuk ke kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).” Hal ini memunculkan tantangan bagi Indonesia untuk memperkuat produktivitas dan daya saingnya agar tidak tertinggal lebih jauh.
Dalam konteks ini, Malaysia juga mencatat lonjakan ekspor yang luar biasa, dengan surplus perdagangan mencapai rekor bulanan sebesar 40 miliar ringgit. Ini menunjukkan bahwa negara-negara tetangga Indonesia mampu memanfaatkan peluang ekonomi dengan lebih baik, sementara Indonesia justru mengalami defisit neraca perdagangan untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Rizal menekankan bahwa meskipun Indonesia memiliki keunggulan dalam ukuran pasar dan sumber daya alam, tantangan seperti produktivitas tenaga kerja yang rendah dan biaya logistik yang tinggi harus segera diatasi. “Kondisi ini membuka peluang kolaborasi ASEAN sebagai basis produksi terintegrasi, selama Indonesia mampu masuk lebih dalam ke rantai nilai regional,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi Indonesia untuk tidak hanya fokus pada menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendorong pertumbuhan berbasis produktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui industrialisasi yang bernilai tambah, pengembangan ekspor manufaktur, dan peningkatan kualitas pendidikan serta inovasi.
Dengan demikian, meskipun Vietnam dan Filipina resmi naik kelas jadi negara menengah atas, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan dengan memperbaiki sejumlah aspek perekonomian. Sejarah pembangunan tidak akan mengingat siapa yang lebih dulu tiba, tetapi siapa yang terus berlari dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
