Sorot Jogja – Sempat memanas, AS dan Iran sepakat setop saling serang [titlebase] pasca serangkaian insiden militer di Selat Hormuz. Kesepakatan ini diumumkan oleh seorang pejabat anonim dari AS pada Minggu malam (28/6/2026) setelah kedua negara terlibat aksi saling serang yang mengkhawatirkan stabilitas di kawasan tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan antara AS dan Iran meningkat tajam. Serangan yang dilakukan oleh AS terhadap fasilitas militer Iran di Selat Hormuz pada tanggal 26 dan 27 Juni, sebagai respons terhadap serangan drone Iran terhadap kapal komersial, memicu balasan dari Iran yang menghantam pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Momen ini menjadi titik puncak dari konflik yang berlarut-larut antara kedua negara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca juga:

Dengan adanya kesepakatan untuk menghentikan serangan, kedua pihak berkomitmen untuk memastikan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi transportasi energi global, dan ketegangan di lokasi ini dapat berdampak luas pada pasar energi dunia. “Kami sepakat untuk menghentikan serangan kinetik (terhadap Iran), dan kapal-kapal dapat bergerak bebas,” ungkap pejabat AS tersebut.

Langkah ini juga disertai dengan rencana untuk melanjutkan negosiasi di Doha, Qatar, pada tanggal 30 Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut, isu-isu strategis seperti program senjata nuklir Iran dan keamanan pelayaran akan menjadi agenda utama. Iran sebelumnya telah menekankan pentingnya implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni, yang mencakup 14 poin penting untuk pemulihan hubungan dan stabilitas di wilayah tersebut.

Sementara itu, Iran juga menunjukkan sikap tegas dengan mengawasi penerapan kesepakatan di lapangan. Mereka menuntut agar semua poin dalam nota kesepahaman dipenuhi sebelum melanjutkan dialog politik yang lebih tinggi. AS sendiri telah menerbitkan lisensi resmi untuk penjualan minyak Iran, yang diharapkan dapat membantu memulihkan perekonomian Iran yang tertekan akibat sanksi internasional.

Baca juga:

Namun, meskipun ada kesepakatan untuk menghentikan saling serang, situasi di lapangan masih sangat dinamis. Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata bisa berakibat pada penghentian total proses diplomatik. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melalui media sosialnya menegaskan ketegasan AS dalam menyikapi setiap pelanggaran terhadap kesepakatan damai.

Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz dan serangan balasan yang terjadi menunjukkan betapa rapuhnya situasi di Timur Tengah saat ini. Dengan adanya kesepakatan untuk menghentikan saling serang, harapan untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan ini kembali muncul, meskipun tantangan masih sangat besar. Sempat memanas, AS dan Iran sepakat setop saling serang [titlebase] dan melanjutkan jalur diplomasi yang telah dimulai sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: